Toko Kelontong: Di Zaman Serba Digital, Masih Laku kah?

Di tengah ramainya orang-orang yang aktif dan asyik menggunakan kemudahan fasilitas berbelanja online, ternyata toko kelontong masih bisa ditemui. Kira-kira apa saja sih perubahan yang terjadi pada toko kelontong pasca kemajuan teknologi?

Sepertinya tidak sedikit dari masyarakat Indonesia yang tidak familiar dengan toko kelontong. Kehadirannya sudah menjadi bagian dari kehidupan bermasyarakat. Kebutuhan rumah tangga mulai dari dapur bahkan hingga beberapa pelengkap furniture, semua bisa tersedia.

 

Sejarah Toko Kelontong

Di Indonesia, kelontong mulai ramai ditemui pada abad 19 silam. Pada saat itu pedagang keliling Tionghoa menjajakan barang dagangannya sambil membunyikan tambur mini. Tambur atau rebana mini ini lah yang ditabuh oleh pedagang dan mengeluarkan suara “kelontong kelontong”.

Pada akhir abad 19, para pedagang akhirnya berhenti berkeliling dan mulai menetap dalam menjajakan dagangannya. Mereka membuka tokonya di titik-titik yang strategis. Misalnya pada persimpangan jalan maupun di dekat pemukiman warga.

Dengan mendirikan toko secara tetap, pedagang juga akhirnya menjajakan barang yang semakin beragam dan lengkap. Bahkan, pada masanya, lumrah bagi para pemilik toko menyediakan jasa kredit bagi para pembeli. Hal tersebut biasa disebut dengan istilah mendreng.

Jasa tersebut memberikan keleluasaan bagi para pembeli untuk dapat mengambil barang tanpa membayar terlebih dahulu. Nantinya, setiap kebutuhan yang diambil akan dicatat sampai jangka waktu tertentu. 

 

Perubahan Konsep pada Toko Kelontong Masa Kini

Perkembangan teknologi yang kian pesat membuat setiap orang harus bisa beradaptasi, termasuk para pemilik toko. Berubahnya tata cara dan gaya hidup masyarakat menuntut  toko kelontong untuk mengikuti pergeserannya. Misal dengan menggunakan peralatan digital pada setiap pelayanannya.

Ranah digital di abad ini sudah bukan hal yang asing lagi. Mulai banyak bisa ditemui beberapa toko yang menggunakan digitalisasi dalam pelayanannya, seperti dalam menyediakan metode pembayaran digital atau menggunakan mesin kasir dalam mengelola arus keluar masuk harian barang di toko.

 

Meskipun sempat berada di posisi terbawah karena minimnya digitalisasi, pada tahun 2019, penggunaan uang elektronik melonjak sebesar 241,2 persen. Hal tersebut mengindikasikan preferensi masyarakat dalam menggunakan uang digital terus melesat naik. Pendigitalisasian dilakukan demi meningkatkan market supaya lebih luas agar toko kelontong dapat terus bersaing di tengah derasnya permintaan market yang makin tinggi dan beragam.

Sebagai salah satu bentuk kemajuan zaman, Luna hadir dalam membantu para pemilik usaha dalam mempermudah pelayanan konsumen. Aplikasi kasir kini memang tengah ramai, namun kamu dapat mempercayakan Luna sebagai mesin kasir andalanmu.

Mesin kasir digital tidak hanya membuat toko kelontong jadi terlihat lebih modern, tapi akan sangat membantu kegiatan operasional di toko. Selain menjadi tempat untuk merawat hubungan antar masyarakat yang terus terpapar arus teknologi, pengimplementasian digital juga harus bisa diseimbangi.

#UntungAdaLuna, coba dulu yuk!

LEAVE A COMMENT